Fakta Dibalik Quotes Populer ‘Ulah Adigung’: Bongkar Kecurangan Balap Motor Era 1960-an

Gasspeedu – Maestro balap Indonesia, Tommy Manoch masih mengenang ingatan masa mudanya saat terjun di kancah balap motor.

Bagi pria kelahiran Bandung, 3 Maret 1947 itu, balap motor akan tetap terpatri sampai kapan pun.

Padahal, Tommy awalnya memulai karier di balap sepeda dan beberapa kali meraih gelar juara. Sampai akhirnya, saat ayahnya membelikan BMW 250 dari sinilah minatnya terjun di kancah balap motor bermula.

Debut mengikuti ajang balap motor bermula ketika mengenal pebalap lain seperti Tjetjep Heriyana dan M Gumilar.

Kerasnya kompetisi GP Indonesia 1963 di Sirkuit Curug jadi penentu kiprahnya saat mengerahkan semua kemampuannya mengendarai Honda CB72 250cc meskipun sebelum balapan ia sempat terserang demam.

Di ajang tersebut Tommy berhasil menjuarai dua kelas sekaligus di kelas 250 cc junior (25 km) dan merebut pula gelar juara pertama dalam 250 cc Grand Prix (42 km).

Persis seperti kutipan yang ditulis Majalah Djaja pada 1963 silam.

Bercerita tentang maestro balap Tommy Manoch kurang lengkap kalau tidak membahas kutipan fenomenal ‘Ulah Adigung’.

Hingga sekarang, kutipan ini masih digaunggkan para penggiat custom culture Indonesia. Sebagai sejarah, penghormatan sang maestro, dan nyala semangat di tiap custom build tanah air.

Kutipan Bahasa sunda yang artinya ‘Jangan Sombong’ ini merupakan bentuk protes Tommy Manoch melihat banyak kecurangan di ajang balap motor.

Ia putuskan untuk mengekspos kata Ulah Adigung di Honda CB 77 Superhawk di ajang Indonesian Grand Prix 1963. Saat Tommy menyadari kalau tangki motor balapnya diisi air.

Ulah Adigung Project

Di ajang Mods vs Rocker pada Agustus 2015 lalu, Tommy kembali mengenang masa-masa emasnya dari dekade 1970-an.

Melalui kolektif Ulah Adigung Project, Tommy bisa merasakan masa jayanya di motor replika Honda CB72 mirip seperti tunggangannya dulu.

Motor itu dibangun kembali melalu Ulah Adigung Project yang diprakarsai fotografer dan founder Elders Company Heret Frasthio, Berto putra sulung Tommy, Omar, dan Arya Hidayat.

Dari kampanye yang mereka galang, terkumpul sumbangan sejumlah parts dan dana sekira Rp50 juta.

Selain mendapat banyak sumbangan dari berbagai komunitas. Mereka juga gencar menyebarkan pesan “Ulah Adigung” milik Tommy Manoch ke semua bikers di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *